Satu tahun menjelang suksesi helatan politik tahun 2014, muncullah kerlap-kerlip bintang di sana-sini: orang-orang yang ingin tampil sebagai pemimpin. Tak ayal, tampilnya mereka mewarnai kehidupan politik di negara kita yang tercinta.
Ada yang tanpa ragu mendeklarasikan diri sebagai calon presiden, ada yang masih malu-malu terhadap hal tersebut, dan masih ada juga yang masih menunggu arah angin atau pinangan dari partai lain. Ada pula calon pemimpin dari bangsa kita yang menitip nama melalui survei elektabilitas yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga survei yang telah menjamur.
Ada pula yang mencuri perhatian pemilih pemula dengan mengusung jalan perubahan sebagai etos kerja dan menggambarkan partainya sebagai rumah perubahan. Bahkan, sudah ada pula yang mulai mencuri perhatian pemilih pemula dengan lomba-lomba yang diselenggarakan. Hal ini sudah saya tulis dalam tulisan pendek berjudul Indonesia Berdikari Untuk Pencitraan? (bisa dilihat di: http://kom.ps/ACeBsh ).
Nama-nama yang muncul dan hangat di media massa saat ini memang masih mengelompok baik dari sisi militer, sipil, birokrat, modal, dan beragam kompetensi lainnya. Munculnya berbagai kalangan muda sebagai tokoh alternatif untuk menggantikan Presiden Pak Beye yang jabatannya insya Allah akan jatuh tempo pada tanggal 20 Oktober 2014 memang menarik.
Usia muda kadang menjadi dasar prasangka: sudah layakkah mereka dengan umur yang relatif muda untuk mecalonkan diri menjadi seorang Presiden melawan capres-capres lain yang sudah tua dan mapan dalam memimpin sebuah negara? Namun, tak bisa dipungkiri: pemimpin muda alternatif, walaupun di tengah keriuhrendahan penampilan para tokoh senior, merupakan sebuah harapan baru.
Dalam undang-undang tidak disebutkan secara rinci batas umur yang ditetapkan bagi Capres yang akan maju dalam Pilpres. Jadi, tidak ada salahnya dan sudah saatnya pula kita mencari pemimpin muda yang enerjik serta tentunya menjadi calon alternatif dibandingkan dengan calon-calon yang sudah familiar wajahnya sebagai wajah lama.
Namun, bermunculannya para politisi muda di panggung politik Indonesia rupanya belum memuaskan masyarakat. Dari survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), hanya 24,8 persen saja publik yang percaya dengan politisi muda.
“24,8 persen publik menjawab baik. Artinya diluar dari jumlah itu publik menganggap politisi muda masih sangat buruk kiprahnya,” kata peneliti dari LSI, Adjie Alfaraby. Pemilu, pada hakikatnya adalah alat dalam mengukur demokrasi suatu bangsa. Karena sesungguhnya pemilu kurang lebih sama definisinya dengan politik, yaitu alat untuk mengubah suatu keadaan.
Perubahan menjadi lebih baik tentunya diharapkan dari pemilu. Masuknya orang-orang muda dan bersih yang memiliki integritas dan punya kapasitas dalam menjalankan fungsinya secara benar dan tepat. Nantinya kita berharap para pemimpin muda dapat menciptakan suatu keputusan yang tegas, cepat, dan lugas.
(Keterangan: Tulisan di atas diambil sebagai contoh untuk rubrik Wacana.)
